oleh

Korupsi Antara Budaya Dan Hilangnya Sensitivitas

-Opini-81 views

LMC] Jawa Barat Korupsi di Indonesia seperti gunung es hampir setiap saat Komisi Pemberantasan Korupsi Melakukan OTT atau Penyidikan Kasus Korupsi, ruang- ruang publik seakan dijejalin prilaku rendah kaum penguasa, dari mereka yang di posisi Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif dengan segala tingkah polah serta aneka modus pengkhianat rakyat. Peristiwa Hukum terakhir adalah korupsi massal yang di lakukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang dari total 45 orang anggota Dewan 41 orang diantaranya di tahan Lembaga Antirasuah (KPK). otomatis aktivitas dan pelayanan di DPRD Kota Malang Lumpuh.

Banyak analisis dan hipotesa yang diungkapkan berbagai pengamat maupun pegiat anti korupsi mengenai prilaku korupsi itu sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini. Salah satu yang menjadi bahan observasi penulis yakni apakah korupsi ini merupakan “Budaya” atau merupakan indikator menurunnya moralitas sebagai paradigma dan dogma yang harus di jadikan acuan dalam berbangsa.

Kalaulah korupsi merupakan budaya berarti merupakan hasil warisan dari sejarah panjang bangsa ini. Bisa kita lihat pada masa lalu dapat di representasikan oleh jatuhnya VOC, akibat korupsi merajalela sampai zaman Suharto hingga zaman Reformasi ini terus terjadi bahkan cenderung meningkat.

Jika korupsi sudah menjadi budaya maka alat untuk merontokannya berupa tatanan Hukum yang keras saja tidak akan berarti apa- apa. Hukum hanya akan memiliki kekuatan diatas kertas saja tanpa kekuatan mencegah, menghukum pelaku korupsi, kenapa demikian karena sebagian besar orang Indonesia sudah terlanjur merasa enak dengan korupsi, sudah mendarah daging.

Korupsi dilakukan secara turun- temurun seringkali anak yang dilahirkan bukan dari seorang koruptor bisa menjadi koruptor apalagi dari orang tua koruptor.

Korupsi sendiri sebenarnya memiliki pengertian yang sederhana,” korupsi itu berarti maling, menipu, dan tidak amanah, apapun itu jika perbuatannya terindikasi unsur- unsur diatas pasti itu Korupsi. Logika sederhana mengenai prilaku korupsi adalah perbuatan meminta-minta menjadi awal terjadinya korupsi. Seringkali perbuatan mengemispun tidak selamanya dipandang hina oleh masyarakat kita bahkan seorang pengemis penghasilannya jauh melebihi seorang pekerja.

Mengemis dan meminta jika dibawa ke area formal(tempat kerja) akan menyuburkan praktik korups, rasa malu telah hilang dalam otak kita merasa bangga melakukan korupsi bahkan kita telah kehilangan rasa malu pada diri sendiri, apalagi kepada Tuhan. Korupsi itu sangat halus dan lembut dia tidak perlu dibungkus dengan kata- kata kasar, saling tawar menawar serta deal akhirnya membunuh rasa sensitivitas kita nurani terabaikan oleh gelapnya hati melahirkan kolektivitas atau istilah yang sering kita dengar “Berjamaah”

Penulis Edi

Komentar